One stop search, watch and play
Sign My iBook:
Search This Blog
Browse This Website In:
Blog Archive
Bookmarking Us:
Category List
- Adler (1)
- autistik (1)
- ciri-ciri autistik (1)
- gangguan autistik (1)
- konseling (1)
- psikologi (1)
Followers
Minggu, 20 Maret 2011
Konselor Adlerian
Konseling Pendekatan Adlerian
Alfred Adler
Alfred Adler lahir pada tanggal 7 Februari 1987 di Penzig, Austria, daerah tepi Vienna. Dia anak ketiga dari tujuh bersaudara dalam keluarga Yahudi kelas menengah. Ayahnya, Leopord Adler adalah seorang pedagang. Alfred Adler mengalangami banyak kesulitan pada masa kecilnya. Ketika ia berusia tiga tahun, seorang saudaranya meninggal di tempat tidur mereka bersama (Orgler, 1963). Adler sendiri mudah sakit dan mengalami kecelakaan. Dua kali ia ditbarak di jalan, ia memiliki pneumonia, menderita rakhitis, dan secara umum sakit-sakitan dan lemah. Sejarah ini membuatnya menghadapi ketakutan akan kematian dan ketertarikan untuk menjadi seorang dokter. Konsekuensi penting lainnya dari permasalahan medis di masa kecilnya ialah kemanjaan yang cuku besar, terutama dari ibunya. Tetapi, ketika adiknya lahir, Adler merasa diabaikan menyebabkan dirinya mengalihkan perhatian ibunya dari dia ke bayi barunya. Hal ini menyebabkan dirinya mengalihkan dirinya ke ayahnya dan kawan-kawan sebayanya, yang dari mereka ia belajar akan “keberanian, kesetiakawanan, dan kepentingan sosial”.
Dari sisi akademis, Adler awalnya bukan siswa yang baik. Dia sangat lemah dalam matematika, sampai-sampai gurunya menyarankan orangtua Adler untuk mempekerjakan Adler sebagai pembuat sepatu. Tetapi kemudian Adler belajar keras dan kemudian pandai dalam matematika. Meskipun secara umum Adler bukan siswa yang baik, ia sangat tertarik dalam masalah psikologi dan sosial sejak masa kanak-kanak. Bahkan pada posisi professional pertamanya setelah ia menyelesaikan kedokteran di University of Vienna, awalnya ia bekerja sebagai optamologis, dan kemudian tertarik pada neurologi dan akhirnya menjadi psikiatri. Saat menjadi psikiatri, Adler diminta untuk bergabung menjadi anggota Perkumpulan Psikoanalitik Freud, dimana ia menjadi terkenal nantinya. Disana Adler menganggap dirinya rekan kerja dibanding murid Freud. Dia juga tidak setuju dengan pendekatan teori Freud, terutama penekanan biologis dan seksualitas. Adler mengembangkan sebuah orientasi teori yang lebih sedikit unsure deterministic dan lebih bersifat praktis dan hopeful. Dia lebih menekankan perasaan subjektif dibanding dorongan biologis dan seksualsebagai kekuatan utama yang memotivasi dalam hidup. Hal ini kemudian membuatnya keluar dari perkumpulan Freud dan kemudian mengembangkan teori dan perkumpulannya yang dikenal dengan “Perkumpulan Psikologi Individual”.
Keterlibatan Adler yang tidak kenal lelah dalam pekerjaannya terus berlangsung hingga ia meninggal pada tanggal 28 Februari 1937, ketika sedang bersiap ceramah di Abardeen, Skotlandia. Ia meninggal karena serangan jantung.
Konsep Teoritis Adler
Teori-teori, seperti Freud, sangat mendalam dan kaya. Konsep-konsep Adler menekankan kesatuan dan keunikan dari setiap individu. Teorinya menekankan aspek kesadaran dibanding ketidaksadaran dari perilaku, yang merupakan pusat perkembangan kepribadian. Ia percaya bahwa memahami manusia berkembang dari pengetahuan terhadap tujuan-tujuan mereka dan menggerakkan konstelasi keluarga dan gaya hidup mereka. Sweeney (1998) mendeskripsikan teori Adler sebagai Socia-Teleo-Analytic.
· Socio. Hal ini merefleksikan penekanan Adler pada kepentingan sosial, bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar untuk menjadi bagian dari keseluruhan sosial yang besar dan perhatiannya pada kemajuan umat manusia.
· Teleo. Hal ini menunjukkan keyakinan Adler pada sifat penentuan tujuan manusia, perilaku dengan maksud tertentu yang diharapkan membantu manusia mencapai tujuan-tujuan mereka. Menurut Sweeney (1998,p.10), “aspek-aspek teologis dari teori Adler menyatakan optimistik, sifat yang membesarkan harapan dari posisinya.”
· Analytic. Adler bersama Freud yakin bahwa hal yang terpenting yang menentukan arah dari kehidupan seseorang untuk membawakan tujuan-tujuan dan gaya hidup ke dalam kesadaran adalah bawah sadar dan kebutuhan untuk dianalisis.
Menurut Adler manusia selalu dimotivasi oleh social interest-yang merupakan sebuah perasaan bahwa ia merupakan bagian dari komunitas, dengan kata lain dapat dikatakan sebagai kebutuhan atau keinginan untuk berkontribusi terhadap masyarakat. Dreikurs membedakan antara orang-orang normal (stabil) dan tidak normal (tidak stabil) berdasarkan pada tujuan dan gaya hidup mereka. Orang-orang normal tersebut memiliki suatu logika pribadi yang merefleksikan rasional dan juga ketertarikan sosial, sementara mereka yang tidak normal hanya memfokuskan pada kebutuhan-kebutuhan mereka sendiri dan gagal mengenali pentingnya konteks sosial mereka dan kebutuhan-kebutuhan orang lain. Gagasan ini merefleksikan keyakinan Adler bahwa perkembangan dapat dijelaskan terutama dengan psikososial daripada dinamika psikoseksual. Ia percaya bahwa manusia secara alamiah adalah makhluk sosial yang tertarik untuk menjadi bagian dari suatu kelompok dan berkeinginan untuk memecahkan permasalahan dari masyaraka mereka.
Ajaran utama Adler adalah bahwa yang penting bagi manusia adalah mencapai kesuksesan, kepuasan, dan makna dalam kehidupan, sehingga perilaku mereka akan mengarah pada tujuan. Tindakan-tindakan mereka merefleksikan usaha-usaha mereka untuk mencapai tujuan-tujuan yang dipandang Adler sebagai tiga tugas kehidupan: pekerjaan, cinta dan persahabatan. Tujuan-tujuan yang mereka hargai dan bagaimana mereka mencoba untuk mencapainya adalah faktor-faktor utama dalam perkembangan mereka (adler, 1963a).
Inferioritas – Superioritas
Manusia cenderung untuk memenuhi potensi unik mereka , proses yang ia sebut sebagai striving for perfection (usaha menuju kesempurnaan). Terdapat pula kecenderungan bahwa setiap manusia untuk merasa inferior (kurang). Inferioritas atau rendah diri adalah suatu dimensi pada tahun-tahun awal masa kanak-kanak yang diyakini Adler memiliki dampak yang besar terhadap perkembangan. Hampir semua anak kecil memiliki perasaan-perasaan inferioritas, menganggap dirinya sendiri kecil dan tidak berkuasa dalam berhubungan dengan orang tua mereka dan saudara-saudaranya yang lebih tua. Bagaimana seorang anak kecil diperlakukan dan bagaimana ia mengatasi perasaan-perasaan inferioritas tersebut adalah faktor-faktor penting dalam perkembangan anak. Anak-anak yang termotivasi untuk mengurangi perasaan-perasaan berbeda dan kepercayaan diri yang rendah melalui keterlibatan sosial dengan yang lain, membangun kekuatan dan kemampuan mereka, membuat pilihan-pilihan yang bijaksana dan kreatif, dan berusaha keras dengan cara yang sehat berkaitan dengan pertumbuhan dan kemampuan/kekuasaan adalah mereka yang memiliki kemungkinan besar berkembang dengan cara-cara yang positif. Sebaliknya, anak-anak yang dimanjakan atau diabaikan dan mereka yang usaha-usahanya terhadap penguasaan terhalangi, jauh lebih sedikit memiliki kemungkinan untuk mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang positif. Anak-anak yang dimanja seringkali bertumbuh dengan mengharapkan orang lain untuk memperhatikan mereka, sehingga tidak mengembangkan sumber-sumbernya sendiri, sehingga mengembangkan inferiority complex. Sementara anak-anak yang diabaikan dapat menjadi anak yang berkecil hati dan putus harapan ketika usaha-usaha mereka untuk mengatasi suatu peran inferioritas diabaikan atau ditolak, sehingga mengembangkan superiority complex.
Konstelasi keluarga dan Urutan Keluarga
Sumber awal pengaruh lainnya pada perkembangan manusia adalah konstelasi (kumpulan) keluarga dan urutan kelahiran seseorang. Adler memberikan penekanan yang besar pada sifat sosial dari permasalahan manusia. Ia percaya bahwa, melalui pemeriksaan konstelasi keluarga, kita dapat memahami gaya hidup orang. Sebaliknya, dengan memahami harapan mereka terhadap kehidupan, kita dapat memahami peran-peran yang mereka miliki dalam keluarga mereka (Dreikurs, 1973).
Urutan kelahiran adalah aspek lain dari keluarga yang – menurut Adler – memiliki dampak yang sangat besar dalam perkembangan. Ia mengidentifikasikan lima posisi psikologis dalam keluarga:
1. Anak Tertua, tentu secara sementara adalah satu-satunya anak sampai saudara kandung pertamanya (anak kedua) lahir. Ketika mereka hanya satu-satunya anak dalam keluarga , mereka cenderung menjadi pusat perhatian dan seringkali dimanjakan. Tetapi, ketika saudara-saudara kandungnya lahir, anak tertua biasanya merasa digantikan dan dapat merasa terancam, marah, dan cemburu karena kehilangan peran khusus mereka sebagai satu-satunya anak. Keadaan ini menyebabkan mereka memiliki perasaan benci atau mempertegas perbedaan kekuasaan dan wewenang terhada anak kedua. Anak-anak pertama, yang pada awalnya bertumbuh di dalam suatu keluarga orang-orang dewasa, cenderung menjadi dapat diandalkan, bertanggung jawab, dan berorientasi pencapaian kesuksesan. Mereka secara umum terus-menerus menjadi berkelakukan baik agar tetap disayangi orang tuanya setelah kelahiran anak kedua, tetapi mereka juga bisa menjadi sulit jika usaha ini tidak berhasil.
2. Anak Kedua, posisi anak kedua dapat disebut sebagai posisi yang membuat hati iri. Anak kedua merasakan tekanan yang konstan untuk menyamai dan bersaing dengan anak tertua. Karena anak kedua menyadari mereka tidak dapat benar-benar mengalahkan kesuksesan yang telah dicapai anak pertama, mereka cenderung melakukan usaha keras pada hal-hal yang tidak dikuasai oleh saudara tertuanya. Semakin sukses anak pertama, semakin berkemungkinan besar anak kedua mengalami keraguan diri dan bergerak ke arah berlawanan dari anak pertama yang secara tipikal berperilaku baik dan berorientasi pencapaian hasil. Biasanya anak kedua menjadi individu yang gampang bergaul, riang, kreatif dan kurang peduli terhadap peraturan bila dibandingkan anak pertama.
3. Anak tengah merasa tertekan antara anak tertua yang telah menemukan tempatnya dan anak termuda yang mungkin tampak menerima lebih banyak cinta dan perjatian. Mereka tidak mengembangkan kedekatan, baik kepada anak tertua atau paling muda. Anak-anak tengah seringkali memiliki kesulitan menemukan suatu cara untuk menjadi special dan dapat menjadi bermasalah dan berkecil hati, memandang dirinya sendiri tidak disayang dan diabaikan. Tetapi karena posisinya, anak tengan sangat hebat dalam belajar tentang peraturan keluarga dan memiliki kemampuan negosiasi yang hebat pula. Kemampuan ini dapat digunakan untuk memanipulasi keadaan sesuai yang mereka inginkan dan meilih suatu area dimana dalam area itu mereka dapat sukses. (pola ini biasanya kuarang terlihat di dalam keluarga besar dimana dua atau lebih anak sama-sama memegang peranan sebagai anak tengah tetapi secara khusu cenderung terjadi pada keluarga dengan tiga orang anak).
4. Anak-anak termuda menghadapi dua kesualitan. Mereka dapat merasa suatu kebutuhan untuk berada dipuncak dengan cepat pada setiap saat hanya untuk menyamai saudara-saudaranya yang lebih tua, atau mereka dapat menjadi berkcil hati karena keputusasaan karena tertinggal dari saudara dan saudarinya dan kemudian bisa menyerah dan tetap menjadi bayi dalam keluarga. Anak termuda dimanja pada banyak keluarga baik oleh orang tua maupun saudaranya. Keputusan mungkin dibuat untuk mereka, dan mereka tiak perlu mengambil tanggung jawab untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Mereka mungkin tidak menganggap serius tetapi justru menjadi semcam “anak emas” di dalam keluarga. Tetapi mereka dapat pula memiliki kekuasaan yang besar dan menjadi bos atau tirani dalam keluarga. Jika yang mereka cari adalah untuk menjadi mandiri, mereka biasanya mengejar kepentingan-kepentingan yang semuanya adalah untuk dirinya atau mengindari persaingan dengan yang lainnya di dalam keluarga. Yang berkemungkinan besar menjadi sekutunya adalah anaktertua, yang juga memiliki perasaan menjadi berbeda.
5. Anak Tunggal, anak-anak yang memiliki jarak kelahiran 7 tahun atau lebih dari saudara-saudarnya secara psikologis trmasuk anak tunggal. Memiliki banyak kesamaan dengan anak pertama dan anak terakhir. Mencari pencapaian seperti anak pertama dan biasanya menikmati menjadi pusat perhatian seperti anak termuda. Mereka bisa jadi dimanjakan dan memfokuskan hanya pada kebutuhan-kebutuhan mereka sendiri. Sebaliknya, jika orang tua mereka khawatir, anak tunggal dapat mengadopsi kekhawatiran dan rasa tidak aman dari orang tua. Karena anggota keluarga lainnya semuanya adalah orang dewasa , anak-anak ini secara tipikal menjadi dewasa lebih awal dan belajar untuk bekerja sama mengembangkan imajinasi yang tinggi, karena sebagian besar watu mereka habiskan sendiri. Kekurangan anak tunggal disini adalah manja, egois, dan kurang baik dalam bersosialisasi.
Meskipun penelitian telah mengesahkan banyak asumsi-asumsi Adler tentang dampak dari urutan kelahiran pada kelahiran (Grey, 1998; Lombardi, 1996), variable-variabel di dalam keluarga dapat memiliki dampak yang kompleks terhadap pola-pola ini. Contohnya, ketika anak kembar lahir, keluarga cenderung memperlakukan salah satu anak sebagai yang tertua dari anak yang lain, secara artificial menentukan urutan kelahiran mereka. Atau ketika anak pertama adalah anak perempuan atau mengalami gangguan/cacat, keluarga secara kurang hati-hati dapat mendorong anak kedua pada posisi anak pertama. Pengharapan yang tinggi akan diberikan pada anak tersebut, sementara anak pertama kemungkinan besar diperlakukan sebagai anak kedua. Selain itu, Adler telah menunjukkan bahwa ini adalah dimana anak-anak member respon terhadap posisi-posisi mereka daripada posisi-posisi sebenarnya yang memiliki dampak terhadap kepribadian dan perilaku mereka.
Selain itu lingkungan keluarga juga penting untuk perkembangan seseorang, khususnya pada 5 tahun awal kehidupan. Teori Adler menyatakan setiap manusia menciptakan gaya hidup mereka pada saat berusia 5 tahun, terutama melalui interaksi dengna anggota keluarga lainnya. Suasana negative keluarga misalnya, authoritarian, rejective, suppressive, materialistic, overprotective, atau pitying, sedangkan suasana positif keluarga misalnya democratic, accepting, open, dan social. Persepsi yang berasal dari keluarga lebih mempengaruhi seorang individu daripada dirinya sendiri, dan sangat penting untuk mnegembangkan gaya hidup anak. Perilaku individu dipengaruhi oleh imajinasi mereka, imajinasi ini berasal dari evaluasi subjektif dari diri dan lingkungan mereka sendiri. Lima kesalahan dasar yang disebabkan oleh imajinasi subjektif individu, antara lain:
· Overgeneralizing, yaitu memandang semua hal sama.
· False or impossible goals of security, yaitu nencoba untuk menyenangkan semua orang
· Misperception of live’s demand, mempercayai bahwa semua orang tidak pernah berhenti menginginkan sesuatu, dengan kata lain tidak pernah puas.
· Minimization or denial one’s word, berpikir bahwa seseorang tidak akan pernah mencapai apapun.
· Faulty values, menggunakan segala cara untuk meraih suatu hal/tujuan.
Komposisi dan interaksi dari keluarga-keluarga seseorang mempunyai pengaruh terbesar pada perkembangan gaya hidup mereka. Menurut Starr (1973), “Adler menyimpulkan bahwa setiap anak di dalam keluarga, di luar dari kapasitas didalamnya dan penilaiannya terhadap lingkungan di luar, mengalami situasi yang berbeda. Ia menyatukan perilaku-perilaku ini ke dalam satu pola karakteristik perilaku”. Grey (1998) memandang gaya hidup sebagai yang paling mendasar dri semua konsep Adler, mendeskripsikannya sebagai “jumlah total dari semua sikap individual dan aspirasi-aspirasi, suatu usaha keras yang membawanya kea rah tujuannya mengenai kepercayaan bahwa ia memiliki makna di mata orang lain”.
Maka, gaya hidup adalah suatu cara unik yang mana setiap dari kita mencoba untuk mengatasi perasaan-perasaan inferioritas dan untuk mencapai tujuan-tujuan kita. Meskipun tujuan-tujuan ini hampir selalu melibatkan pencapaian signifikansi/makna, superioritas, kompetensi, dan keunggulan, setiap orang memiliki suatu gambaran, biasanya tanpa disadari, terhadap apa tujuan-tujuannya. Adler menggunakan istilah fictional finalism (finalisme bersifat fiksi/fiksional) untuk menjelaskan gambaran tujuan utama yang mengarahkan perilaku kita. Ia percaya bahwa tujuan ini tertanam kuat antara usia enam dan delapan tahun dan tetap konstan di sepanjang kehidupan seseorang. Logika pribadi kita adalah rute yang membawa kita dari perasaan-perasaan inferioritas kita pada perkembangan gaya hidup yang kita yakini akan membuat kita dapat mencapai tujuan-tujuan fiksi kita. Dreikurs (1973), seorang Adlerian yang member kontribusi besar pada kemajuan karyanya , mendeskripsikan logika pribadi terdiri dari tujuan-tujuan terdekat kita, tujuan-tujuan jangka panjang, dan dasar rasional terdalam (pribadi) kita yang digunakan untuk menjustifikasi gaya hidup kita sebagai cara untuk mencapai tujuan-tujuan ini.
Peran Konselor
Fungsi utama konselor Adlerian adala sebagai pendiagnosa, pengajar, dan panutan dalam hubungan legalitas yang diciptakan dengan klien. Mereka mencoba untuk meng-assest mengapa klien berpikir atau berperilaku dengan orientasi tertentu. Konselor melakukan assessment dengan mengumpulkan informasi mengenai konstelasi keluarga dan ingatan masa kecil klien. Kemudian konselor berbagi interpretasi, impresi, opini, dan perasaan-perasaan dengan klien dan berlanjut pada tahap hubungan terapi. Klien dianjurkan untuk memperlajari dan mengubah gaya hidup yang salah dengan mengmebangkan ketertarikan sosial.
Konselor Adlerian secara berkala aktif dalam berbagi opini dengan klien dan sering memberikan tugas secara langsung kepada klien, seperti bertindak “seandainya” klien adalah orang yang klien inginkan. Mencoba merefleksikan kepercayaan bahwa orang dapat mengorientasikan kembali pemikiran mereka, mengarah pada kebahagiaan dan kehidupan yang lebih bermakna. Konselor Adlerian menggunakan berbagai macam teknik, beberapa diantaranya “meminjam” dari pendekatan lain, (Adler tidak menjelaskan secara spesifik bagaimana seharusnya langkah yang diambil konselor saat nenggunakan teori ini). Sebagaimana peran secara umum, konselor Adlerian menggunakan sedikit teknik assessment, seperti tes psikologis, tetapi mereka biasanya menggunakan kuisioner riwayat hidup untuk mengumpulkan data. Secara umum, mereka menghindari tipe-tipe diagnose yang ada pada DSM-IV, melainkan menggunakan bahasa mereka sendiri, misalnya “discouraged” untuk menjelaskan dinamika-dinamika yang mereka rasakan ketika berhadapan dengan orang lain.
TUJUAN-TUJUAN
Tujuan-tujuan konseling Adlerian berkisar pada usaha untuk membantu individu untuk mengembankan gaya hidup yang sehat secara holistic. Mencoba membantu manusia menyadari bahwa perasaan-perasaan sakit dan kekurangan tidak disebabkan oleh orang lain tetapi kesalahan logis mereka sendiri dan perilaku serta sikap yang bersumber dari logika tersebut. Dengan memungkinkan manusia untuk menyadari kesalahan logika mereka dan untuk mengubah pemikiran dan respon-respon yang terkondisikan, sweorang terapu dapat membantu mereka mengatasi perasaan-perasaan inferioritas, ketergantungan, dan ketakutan yang besar sekali terhadap kegagalan diri mereka dan mengembangkan keyakinan diri dan ketertarikan sosial yang mereka butuhkan untuk mencapai perubahan yang lebih baik dan gaya hidup yang lebih bernilai.
Dan yang paling penting dalam onselinga Adlerian adalah menganjurkan klien untuk menumbuhkan ketertarikan sosial (Adler, 1931). Beradasarkan apa yang dikemukakan Adler, ketertarikan sosial adalah potensi bawaan “yang harus dikembengkan secara sadar atau melalui proses latihan”. Gaya hidup yang salah adalah yang berorientasi pada diri sendiri dan berdasarkan pada kesalahan menentukan tujuan serta kesalahan asumsi yang diasosiasikan pada perasaan-perasaan inverioritas. Perasaan-perasaan ini mungkin bersemburdari keadaan fisik dan mental yan bersebrangan, dimanjakan orangtua atau ditolak. Perasaan-perasaan ini harus dibenarkan dan perilaku-perilaku yang bertentangan harus dihentikan.
Pada akhirnya klient yang memutuskan apakah akan mengembangkan ketertarikan masyarakat atau pda diri sendiri.
Teknik
Pengembangan hubungan konseling sangat penting jika tujuan konseling Adlerin ingin teracapai. Teknik tertentu membantu proses ini. Konselor Adelrian mencoba untuk mengembangkan hubungan yang hangat, suportif, empatik, ramah, dan egaliter dengan klien. Konseling dilihat sebagai usaha yang kolaboratif. Konselor secara aktif mendegarkan dan merespon proses ini mereka mencoba untuk membantu klien mereka mendefinisikan tujuan-tujuan spesifik dan menguak apa yang menghambat pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Seorang konselor seharusnya juga memfokuskan pada kekuatan-kekuatan klien. Seorang konselor dapat mengkonfrontir jika dibutuhkan, mengarahkan ketidakkonsistenan klien. Tujuan utama konselor disini adalah untuk mengatur proses interaksi yang fleksibel dan menekankan tanggung jawab klien.
Setelah hubungan dikembangkan konselor memusatkan perhatian pada analisa terhadap gaya hidup klien, termasuk mempelajari konstelasi keluarga, ingatan masa kecil, mimpi-mimpi, dan prioritas klien. Seperti pada uraian di atas, konstelasi dan suasana keluarga dimana seorang anak tunggal memberi pengaruh besar pada persepsi diri dan persepsi pada orang lain. Tidak ada dua anak yang lahir pada lingkungan yang sama, tetapi posisi urut kelahiran anak dan assessment terhadap suasana keluarga memiliki dampak yang besar terhadap perkembangan dan perilaku. Seringkali seorang klien mampu memperoleh insight dengan me-recall ingatan masa kecil, terutama peristiwa-peristiwa sebelum usia 10 tahun. Adler (1931) menyatakan bahwa seseorang mengingat peristiwa masa kecil yang konsisten dengan caranya memandang diri, orang lain, dan dunia secara umum saat ini. Konselor Adlerian melihat keduanya (tema dan detail spesifik) dengan pengumpulan ingatan kembali. Gambaran dari masa lalu diperlakukan sebagai prototype: mereka mungkin merepresentasikan sikap klien ke arah kekuatan, kelemahan, laki-laki, perempuan, dan hampir semuanya. Mimpi-mimpi saat ini maupun masa lalu juga termasuk bagian analisa gaya hidup. Teori Adlerian menyatakan bahwa mimpi mungkin dapat diulang di masa depan. Terutama mimpi-mimpi yang sering. Pandangan prioritas klien juga membantu untuk memahami gaya hidup klien. Seorang klien mungkin tetap melakukan sesuatu gaya hidup yang predominan.
Selanjutnya konselor mencoba untuk membantu klien menemukan insight, terutama dengan menggunakan pertanyaan open-ended dan kemudian membuat interpretasi. Pertanyaan open-ended memungkinkan klien untuk mengeksplorasi pola dalam hidup mereka yang tidak nampak. Interpretasi seringkali dalam bentuk intuitive guesses. Kemampuan berempati sangat penting dalam proses ini. Pada waktu lain, interpretasi didasarkan pada pengetahuan konselor secara umum mengenai posisi urutan kelahiran dan konstelasi keluarga klien. Merujuk pada asas egaliter dalam proses konseling, klien tidak pernah dipaksa untuk mengikuti pandangan konselor.
Untuk mendapat perubahan perilaku, konselor menggunakan teknik-teknik yang spesifik, yaitu:
· Confrontation. Konselor menantang klien untuk mempertimbangkan logika pribadi mereka. Saat klien menguji logika ini, mereka seringkali menyadari mereka dapat merubah logika dan perilakunya.
· Asking “the question”. Konselor menanyakan “apa yang berbeda ketika kamu sehat?” klien sering menanyakan “pertanyaan” selama wawancara awal, tetapi menyesuaikan waktu.
· Encouragement. Dorongan mengimplikasikan kesetiaan setiap orang. Konselor mendorong klien mereka dengan mengatakan pendapat mereka bahwa perilaku dapat dirubah. Dorongan merupakan kunci untuk memilih gaya hidup yang produktif..
· Acting “ask if”. Klien diinstruksikan untuk seola-olah mereka seseorang yang mereka inginkan. Misalnya, seorang yang mereka lihat dalam mimpinya.
· Spitting in the clients soup. Konselor menunjukkan suatu perilaku tertentu kepada klien dan kemudian menghilangkan “kompensasi” atas perilaku tersebut.
· Catching One Self. Klien belajar untuk berhati-hati pada perilaku atau pikiran yang destruktif. Awalnya dibantu oleh konselor.
· Task setting. Klien pada awalnya mengubah perilaku yang mudah, kemudian perlahan-perlahan mengubah perilaku yang sulit. Ketika klien telah dapat mengubah perilaku dan mengontrol kehidupannya, maka proses konseling telah berakhir.
· Push button. Klien didorong untuk menyadari bahwa mereka memiliki banyak pilihan tentang stimulus yang mana dalam hidup mereka yang perlu mereka perhatikan. Mereka diberitau untuk menciptakan perasaaan yang mereka inginkan dengan memusatkan perhatian pada pikiran mereka. Teknik ini seperti menekan tombol karena klien dapat memilih untuk mengingat pengalaman positif atau negatif.
Pada tengah-tengah menggunakan teknik-teknik ini, konselor menghindari “tarbaby” – yang merupakan persepsi dalam hidup yang klien bawa pada konseling dan coba untuk “dimasukkan” pada konselor.
Evaluasi
Pendekatan Adlerian pada konseling memiliki sejumlah keunikan, antara lain:
· Pendekatan ini membantu mengembanglan suasana egaliter melalui positif teknik yang dilakukan konselor, rapport dan komitmen dikembangkan oleh setiap prosesnya dan kesempatan untuk berubah meningkat. Konselor mendorong dan member dukungan merupakan nilai jualnya. Konselor Adlerian mendekati klien mereka dengan sebuah berorientasi pendidikan dan memandang hidup dengan optimis.
· Pendekatan ini dapat digunakan pada lapisan usia manapun. “teori Adlerian mengembangkan model konseling yang diaplikasikan pada anak-anak , dewasa, orang tua, keluarga, guru, dan segmen-segmen dalam masyarakat”.
· Pendekatan ini efektif untuk dalam treatment berbagai macam gangguan pada DSM-IV, mencakup di dalamnya gangguan antisocial, gangguan kecemasan, pada anak-anak maupun dewasa, gangguan afektif dan gangguan kepribadian.
· Pendekatan berkontribusi pada teori-teori lain yang membantu dan untuk pengetahuan masyarakan tentang bagaimana memahami manusia.
· Pendekatan ini dapat diaplikasikan pada konteks budaya yang berbeda.
Meskipun begitu pendekatan ini memiliki kelemahan:
· Pendekatan ini kurang mendapat dukungan berupa penelitian empiris.investigasi lebih banyak diperlukan untuk mengembangkan teori ini.
· Dalam pendekatan ini, hubungan antara konsep dan aplikasinya masih samar-samar. Corey (1996)mengemukakan bahwa Adler lebih menekankan pada praktik dan pengajaran daripada teori.
· Pendekatan ini mungkin terlalu optimistis mengenai manusia. Beberapa tokoh mengkritik teori Adler mengabaikan dimensi lain kehidupan, misalnya ketidaksadaran.
· Prinsip dasar pendekatan, misalnya struktur keluarga yang demokratis, mungkin kurang cocok jika diaplikasikan pada klien yang mempunyai budaya yang menekan hubungan sosial yang langsung.
· Pendekatan ini, mengandalkan kemampuan verbal, logika, dan insight mungkin kurang cocok jika diaplikasikan individu yang lemah dalam kemampuan kognitif.
referensi : buku Konseling Gladding, :)
ref
Mengenai Saya
aku dan teman

Tidak ada komentar:
Posting Komentar