One stop search, watch and play
Sign My iBook:
Search This Blog
Browse This Website In:
Blog Archive
Bookmarking Us:
Category List
- Adler (1)
- autistik (1)
- ciri-ciri autistik (1)
- gangguan autistik (1)
- konseling (1)
- psikologi (1)
Followers
Minggu, 20 Maret 2011
Gangguan Autistik
Gangguan Autistik
Karekteristik Gangguan Autistik
Sindrom autistik diidentifikasi pada tahun 1943 oleh seorang psikiater di Harvard, Leo Kanner. Kanner menemukan bahwa dari sebelas anak yang mengalami gangguan ini tidak menunjukkan perilaku yang tidak dialami oleh penderita skizofernia dan retardasi mental. Ia menamai sindrom tersebut autisme infantile dini karena ia mengamati bahwa “sejak awal terdapat suatu kesendirian autistik ekstrem yang kapan pun memungkinkan, tidak memedulikan, mengabaikan, menutup diri dari segala hal yang berasal dari luar dirinya.”
Kanner menganggap kesendirian autistik merupakan sindrom fundamental. Mereka memiliki keterbatasan yang parah dalam bahasa dan memiliki keinginan obsesif yang kuat agar segala sesuatu yang berkaitan dengan mereka tetap persis sama.
Menurut Ginanjar (2001), autisme adalah gangguan perkembangan yang kompleks yang disebabkan oleh adanya kerusakan pada otak, sehingga mengakibatkan gangguan pada perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan sosialisasi, sensoris, dan belajar. Biasanya, gejala sudah mulai tampak pada anak berusia di bawah 3 tahun.
Pada awalnya, gangguan tersebut tidak termasuk dalam klasifikasi diagnostik gangguan resmi sampai akhirnya muncul pada DSM-III. Hal itu terjadi karena kebingungan awal, gangguan autistik dimasukkan dalam gejala skizopernia dengan onset dini, namun pada kenyataannya anak-anak yang mengalami autisme tidak mengalami skizophernia pada masa dewasa dan tidak mengalami delusi dan halusinasi.
Kebanyakan gangguan atuistik dialami lebih banyak laki-laki daripada perempuan, perbandingannya sekitar 4 kali lipat. Gangguan ini juga jarang terjadi dalam populasi umum, dalam 10.000 populasi, sekitar 0.05 persen yang mengalami autisme. Dibandingkan dengan gangguan skizofernia yang 20 kali lebih besarr dari autisme.
Pada DSM-III dan DSM selanjutnya, gangguan autistik dimasukkan pada gangguan pervasive. Istilah ini menekankan bahwa autisme mencakup abnormalitas serius dalam proses perkembangan itu sendiri sehingga berbeda dengan berbagai gangguan jiwa yang berawal di masa dewasa. Dalam DSM-IV-TR gangguan autistik hanyalah salah satu dari beberapa gangguan perkembangan pervasive; yang lain adalah gangguan Rett, gangguan disintegratif pada anak, dan gangguan Asperger.
Sedangkan menurut Widyawati (1997), gangguan autistik atau autisme juga sering disebut autisme infantil. Gangguan ini merupakan salah satu dari kelompok gangguan perkembangan pervasif yang paling dikenal dan mempunyai ciri khas:
· Adanya gangguan yang menetap pada interaksi sosial, komunikasi yang menyimpang,dan pola tingkah laku yang terbatas serta stereotip.
· Fungsi yang abnormal ini biasanya telah muncul sebelum usia 3 tahun.
· Lebih dari dua per tiga mempunyai fungsi di bawah rata-rata.
Autisme dan Retardasi Mental
Hampir 80% anak-anak autistic memiliki skor di bawah 70pada berbagai tes intelegensi terstandar. Karena sebagian anak-anak yang menderita autisme juga mengalami retardasi mental, kadang sulit untuk membedakan dua disabilitas tersebut.
Meskipun demikian ada perbedaan diantara keduanya. Anak-anak yang memiliki retardasi mental biasanya memiliki skor rendah dalam semua bagian dari suatu tes intelegensi, skor anak-anak dengan autisme dapat memiliki pola yang berbeda. Secara umum, anak-anak dengan autisme lebih buruk dalam mengerjakan tugas –tugas yang memerlukan pemikiran abstrak, simbolisme, atau logika sekuensial, yang kesemuanya berhubungan dengan kelemahan bahasa mereka.
Mereka lebih baik dalam rancangan dalam tes-tes rancangan balok dan merakit objek yang belum dirakit. Kadang mereka dapat memiliki keahlian khusus yang mencerminkan talenta. Mereka juga dapat memiliki memori jangka panjang yang luar biasa. Perkembangan sensorimotorik merupakan bidang kekuatan relative yang terbesar pada anak-anak autisme.
Gangguan Sosio-Emosional
Dalam kasus auitstik, mereka bukan menarik diri dari masyarakat tetapi mereka memang tidak pernah sepenuhnya bergabung dengan masyarakat sejak awal. Pada anak-anak dengan autisme, kelekatan dini dengan sang ibu kurang terlihat
Anak-anak dengan autisme tampak mengalami masalah keterampilan social yang sangat berat. Mereka jarang mendekati orang lain dan pandangan mata mereka seolah melewati orang lain atau membalikkan badan memunggungi mereka. Anak-anak dengan autisme menggunakan waktu yang lebih sedikit untuk melakukan permainan simbolik, mereka jauh lebih mungkin untuk memutar-mutar sebuah balok yang disukainya secara terus-menerus selama berjam-jam.
Beberapa anak autistic tampaknya tidak mengenali atau tidak membedakan antara orang yang satu dengan yang lainnya, mereka mengalami ketertartikan dan menciptakan kelekatan kuat dengan benda-benda mati.
Baru-baru ini, beberapa peneliti berpendapat bahwa kelemahan “teori pikiran” pada anak autistik mencerminkan kelemahan utama dan memicu terjadinya berbagai jenis difungsi social yang digambarkan di atas. Teori pikiran merujuk pada pemahaman kita bahwa orang lain memiliki keinginan, keyakinan, niat, dan emosi. Masalah teori pikiran memang dapat menjadi inti autisme, namun beberapa penelitian akhir-akhir ini bahwa masalah teori pikiran juga terdapat pada anak-anak dengan retardasi mental.
Kekurangan Komunikassi
Pada anak yang mengalami autistik jarang dapat melakukan Babbing dan menyampaikan lebih sedikit informasi disbanding pada bayi-bayi lain. Sekitar 50% anak-anak autistic tidak pernak belajar berbicara sama sekali. Sementara itu, pada mereka yang belajar bicara , bicaranya mencakup bicara keanehan.
Salah satu cirinya adalah ekolalia, dimana si anak mengulangi, biasanya dengan ketepatan luar biasa, perkataan orang lain yang didengarnya. Di masa lalu, sebagian besar pendidik dan peneliti yakin bahwa ekolalia tidak memiliki tujuan fungsional. Meskipun demikian, ekolalia merupakan upaya untuk anak autisme berkomunikasi.
Abnormalitas bahasa lain yang umum terdapat dalam pembicaraan anak-anak autistik adalah pembalikan kata ganti. Anak-anak autis merujuk dirinya sendiri dengan kata ganti, “dia”, “ia”, atau “kamu”.
Neologisme, kata-kata ciptaan atau kata-kata yang digunakan dengan cara tidak biasa, merupakan karakteristik lain dalam pembicaraan anak-anak autistik.
Kelemahan komunikasi tersebut dapat menjadi penyebab kelemahan social pada anak-anak dengan autisme dan bukan sebaliknya. Orang-orang dengan autisme sering kali kurang memiliki spontanitas verbal dan jarang berekspresi secara verbal serta penggunaan bahasa mereka tidak selalu tepat.
Tindakan Repetitif dan Ritualistik
Anak-anak dengan autisme dapat menjadi sangat marah bila terjadi perubahan dalam rutinitas harian dan situasi sekeliling mereka. Susu yang diberikan dengan gelas yang berbeda atau perubahan letak perabotan dapat membuat mereka menangis atau memicu temper tantrum.
Karekteristik obsesional juga terdapat dalam perilaku anak-anak autistik dengan cara yang berbeda. Ketika bermain mereka dapat terus-menerus menjajarkan berbagai mainan atau membentuk berbagai pola yang rumit dengan menggunakan berbagai benda perlengkapan rumah.
Anak-anak dengan autistic juga memiliki perilaku stereotype, gerakan tangan ritualistik yang aneh, dan gerakan ritmik lainnya seperti menggoyangkan tubuh tiada henti. Hal ini seringkali digambarkan sebagai aktivitas stimulasi diri. Mereka dapat memiliki preokupasi untuk mengutak-atik sebuah benda mekanis dan dapat menjadi sangat marah bila diganggu.
Prognosis Gangguan Autistik
Berbagai studi menegaskan gambaran suram mengenai orang-orang dewasa yang menderita autisme. Berdasarkan kajiannya terhadap semua studi yang dipublikasikan, Lotter menyimpulkan bahwa hanya 5-17% anak-anak autistic yang dapat melakukan peyesuaian yang relative baik di masa dewasa, menjalani hidup mandiri, namun tetap mengalami beberapa masalah residual, seperti kegugupan social. Sebagian besar menjalani kehidupan yang terbatas dan sekitar separuhnya dirawat di institusi mental.
Etiologi Gangguan Autistik
Basis Psikologis
Beberapa alasan yang sama yang mendorong Kanner meyakinibahwa anak-anak autistik memiliki intelegensi rata-rata – penampilan mereka yang normal dan fungsi fisiologis yang tampak normal – memicu para teoris terdahulu melakukan kesalahan dengan mengabaikan pentingnya factor-faktor biologis. Pada awalnya focus diarahkan pada factor-faktor psikologis, terutama pengaruh keluarga sejak usia sangat dini.
Teori psikoanalisis
Banyak teori psikoanalisis yang mengungkapkan penyebab autisme., tetapi yang paling terkenal ialah teori dari Bruno Bettelheim yang sangat banyak menangani anak-anak autisik. Asumsi dasarnya adalah autisme sangat mirip dengan apati dan keputusaan yang dialami oleh para penghuni kamp-kamp konsentrasi Jerman dalam Perang Dunia II. Bettelheim berpendapat bahwa balita telah menolak orang tuanya dan mampu merasakan perasaan negatif mereka. Si bayi melihat bahwa tindakannya hanya berdampak kecil pada perilaku orang tua yang tidak responsive. Maka, si anak kemudian meyakini bahwa ia tidak memiliki dampak apa pun pada dunia, kemudian menciptakan “benteng kekosongan” autisme untuk melindungi dirinya dari penderitaan dan kekecewaan. Teori ini kurang mendapat dukungan empiris.
Teori Behavioral
Beberapa teoris perilaku mengemukakan teori bahwa pengalaman belajar tertentu di masa kanak-kanak menyebabkan autisme. Dalam sebuah artikel yang berpengaruh, Ferster berpendapat bahwa tidak adanya perhatian dari orang tua, terutama ibu, mencegah terbentuknya asosiasi yang menjadikan manusia sebagai penguat social. Karena orang tua sendiri tidak pernah menjadi penguat sosial, mereka tidak dapat mengendalikan perilaku si anak, dan mengakibatkan gangguan autistik. Juga tidak terdapat dukungan untuk teori ini.
Evaluasi terhadap Teori Psikologis mengenai Gangguan Autistik
Baik Bettelheim maupun Ferster menyatakan bahwa orang tua memiliki peran penting dalam etiologi autisme. Agar suatu teori psikogenik mengenai gangguan, di masa kanak-kanak benar-benar meyakinkan, harus dapat ditunjukkan adanya sesuatu yang sangat luar biasa dan destruktif terkait perlakuan para orang tua terhadap anak mereka. Hal itu tidak terjadi. Tidak ada bukti yang mendukung teori psikoanalisis atau behavioral.
Basis Biologis
Faktor-faktor Genetik
Studi genetic mengenai autisme sulit dilakukan karena gangguan ini sangat jarang terjadi. Bukti-bukti yang muncul sangat menunjukkan adanya basis genetic dalam gangguan autistic. Contohnya, risiko autisme pada saudara-saudara kandung dari orang-orang yang mengalami gangguan tersebut sekitar 75 kali lebih besar disbanding jika kasus indeks tidak mengalami gangguan autistic. Bukti yang lebih kuat mengenai transmisi genetic dalam autisme diperoleh dari berbagai studi terhadap orang kembar, yang menemukan 60 hingga 91 persen kesesuaian bagi autisme antara kembar identik , dibandingkan dengan tingkat kesesuaian yang berkisar 0 hingga 20 persen pada kembar fraternal.
Factor-faktor Neurologis
Berbagai studi EEG terdahulu terhadap anak-anak autistic mengindikasikan bahwa banyak diantaranya yang memiliki pola gelombang otak abnormal. Berbagai tipe uji neurologis lainnya juga mengungkap adanya tanda-tanda disfungsi otak pada banyak anak-anak autistic. Sebagai contoh, dua studi menggunakan pencitraan resonansi magnetic (MRI) menemukan bahwa para laki-laki muda yang menderita autisme (namun bukan perempuan) memiliki ukuran otak yang secara keseluruhan relative lebih besar disbanding orang-orang tanpa autisme.
Penanganan Gangguan Autistik
Karena pengisolasian diri mereka sangat menyentuh dan simtom-simtom yang mereka alami sangat berat, begitu banyak perhatian diberikan untuk meningkatkan kondisi anak-anak dengan autisme. Seperti halnya pada teori mengenai etiologi, berbagai upaya terdahulu bersifat psikologis, dan beberapa di antaranya sangat menjanjikan. Belum lama berselang, berbagai terapi psikofarmaka juga telah diteliti, dengan sedikit hasil positif. Penting untuk dicatat bahwa meskipun teori biologis mengenai etiologi autisme jauh lebih banyak mendapatkan dukungan empiris dibanding teori psikologis. Tetapi intervensi psikologislah, bukan intervensi biologis, yang saat ini paling menjanjikan. Suatu kerusakan biologis tidak berarti mengesampingkan penanganan psikologis.
Masalah Khusus dalam Menangani Anak-Anak dengan Autisme.
Anak-anak dengan autisme memiliki beberapa karakteristik yang membuat mereka sulit ditangani. Salah satunya, mereka tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap perubahan rutinitas, dan karakteristik serta tujuan utama penanganan mencakup perubahan.
Sangat sulit menemukan cara untuk memotivasi anak-anak dengan autisme. Agar berdampak efektif pada anak-anak tersebut, penguat harus eksplisit, konkret, dan sangat menonjol. Sebuah metode yang banyak digunakan dengan meningkatkan rentang penguat yang direspon oleh anak-anak autistic adalah memasangkan penguat sosial, seperti pujian, dengan penguat primer, seperti makanan yang sangat diinginkan.
Masalah lain yang sering kali menghambat pembelajaran anak-anak dengan autisme adalah selektivitas mereka yang berlebihan dalam mengarahkan perhatian; bila perhatian si anak terfokus pada satu aspek tertentu dalam suatu tugas atau situasi, maka muatan lain, termasuk yang memiliki relevansi, dapat diabaikan sama sekali.
Terlepas dari semua masalah tersebut, berbagai program pendidikan untuk anak-anak dengan autisme telah memberikan beberapa hasil positif.
Penanganan Behavioral untuk Anak-Anak dengan Autisme.
Menggunakan modeling dan pengondisian operant, para terapis perilaku mengajari anak-anak autistic untuk berbicara, mengubah bicara ekolalik mereka, mendorong mereka untuk bermain dengan anak lain, dan membantu mereka secara umum menjadi lebih responsif kepada orang dewasa.
Ivan Lovaas, peneliti klinis terkemuka di University of California di Los Angeles, menjalakan program operant intensif bagi anak-anak autistic yang masi sangat muda (di bawah usia 4 tahun). Terapi mencakup semua aspek kehidupan anak-anak selama lebih dari 40 jam seminggu dalam waktu lebih dari 2 tahun. Para orang tua diberi pelatihan ekstensif sehingga penanganan dapat terus dilakukan hampir selama waktu terjaga anak-anak tersebut. Semua anak diberi hadiah bila berperilaku pantas secara sosial – contohnya, berbicara dan bermain dengan anak-anak lain. Tujuan program tersebut adalah membaurkan anak-anak tersebut dengan asumsi bahwa anak-anak autistik, seiring membaiknya kondisi mereka, akan lebih memperoleh manfaat bila berbaur bersama anak-anak normal disbanding bila tetap menyendiri atau bersama dengan anak-anak lain yang juga mengalami gangguan serius.
Terdapat alasan untuk meyakini bahwa pendidikan yang diberikan oleh orang tua lebih bermanfaat bagi anak daripada penanganan berbasis klinik atau rumah sakit. Orang tua hadir dalam berbagai situasi yang berbda sehingga dapat membantu anak-anak menggeneralisasikan manfaat yang mereka peroleh.
Belum lama berselang,kelompok penelitian Koegel memfokuskan pada perbandingan berbagai strategi pelatihan behavioral bagi orang tua, yang menghasilkan berbagai temuan menarik. Daripada mengajari orang tua untuk memfokuskan pada mengubah perilaku bermasalah yang ditargetkan secara individual dengan cara berurutan, Koegel, Bimbela, dan Schreibman (1996) menemukan bahwa orang tua dapat menajadi lebih efektif bila diajari untuk terfokus pada meningkatkan motivasi dan responsivitas umum anak-anak autistic mereka.
Salah satu intervensi pertama yang berupaya meilbatkan orang tua dalam proses penanganan adalam program TEACHC (Treatment and Education of Autistic and related Communication Handicapped Children) yang dikembangkan oleh Schopler dan para koleganya di University of North Carolina. Intervensi berbasis komunitas ini menekankan kerja sama orang tua dan gutu dalam penanganan auttisme. Berbagai varian program TEACHC telah diadopsi di sejumlah Negara, termasuk Swedia dan Jepang.
Meskipun demikian harus dipahami dengan jelas bahwa beberapa anaka autistic dan mengalami gangguan parah lainnya hanya dapat dirawat secara memadai di rumah sakit atau di rumah bersama yang ditangani oleh para professional kesehatan mental. Terlebih lagi, kondisi beberapa keluarga tidak memungkinkan untuk perawatan di rumah bagi anak yang mengalami gangguan parah. Penanganan efektif yang dapat diimplementasikan oleh orang tua tidak berarti bahwa hal itu merupakan cara yang tepat bagi semua keluarga.
Penanganan Psikodinamika bagi Anak-Anak dengan Autisme
Karena ia menganggap bahwa masalah kelekatan dan kelemahan emosional sebagai penyebab autisme, Bruno Bettelheim berpendapat bahwa atmosfer yang hangat dan penuh kasih saying harus diciptakan untuk mendorong si anak memasuki dunia. Kesabaran dan hal yang disebut oleh para Rogerian sebagai penerimaan positif tanpa syarat diyakini merupakan hal yang diperlukan oleh anak dengan autisme untuk mulai mempercayai orang lain dan untuk mengambil kesempatan dalam membangun hubungan dengan orang lain.
Penanganan dengan Obat-Obatan bagi Anak-Anak dengan Autisme.
Obat yang paling umum digunakan untuk menangani perilaku bermasalah pada anak-anak autistic adalah Haloperidol (nama dagang Haldol), suatu obat antipsikotik yang sering digunakan untuk menangani skizofrenia. Beberapa studi terkendali menunjukkan bahwa obat ini mengurangi penarikan diri dari kehidupan sosial, perilaku motorik stereotip, dan perilaku maladaptif, seperti melukai diri sendiri dan agresi.
Para peneliti juga meneliti suatu antagonis reseptor opioid, naltrekson dan menemukan bahwa obat ini mengurangi hiperaktivitas pada anak-anak autistic dan cukup meningkatkan perilaku memulai interaksi sosial. Sebuah studi terkendali juga menunjukkan sedikit peningkatan dalam perilaku memulai komunikasi, namun berbagai studi lain tidak menemukan perubahan dalam komunikasi atau perilaku sosial. Obat tersebut tampaknya tidak berpengaruh pada simtom-simtom utama autisme, dan beberapa bukti menunjukkan dalam dosis tertentu obat tersebut dapat meningkatkan perilaku melukai diri sendiri.
Singkatnya, penanganan farmakologis pada autisme, pada titik ini, kurang efektif dibanding berbagai intervensi behavioral.
Referensi
http://dwpbuenosaires.blogspot.com/2007/04/autisme-gangguan-perkembangan-anak_16.html
Buku Abnormal (lupa judulnya) ;;)
Mengenai Saya
aku dan teman

Tidak ada komentar:
Posting Komentar